orang itu kulihat berlari keluar
kampungnya sambil menyanyikan kidung kerendahan hati
jaket gunung hijau bahan parasut
memeluk tubuh kurusnya
tak ada ransel yang biasa
bergoyang-goyang menepuk punggung
hanya kresek yang tergantung,
nampak risih ia akan suara kidung
pokok-pokok beringin menatap
orang itu
akar-akar gantung melambai,
mengusik angin
mungkin ia minta angin menegur
orang yang berlari
diam lebih baik, katanya dalam
imajiku
namun orang itu masih berlari
kidung masih dan akan selalu
tersambung
dalam pikirku, ia terlihat
anggun ketika melompat seraya melambungkan suara dua oktafnya pada
bioma di sekitarnya
namun entah yang ada pada benak
bioma
aku tak pernah tahu jalan
pikiran alam
orang itu mengarah gunung yang
tampak tua
tubuhnya berkeriput dan nampak
tak segagah sebelas atau dua belas abad sebelumnya
gunung nampak tak terima
kedatangan orang itu
“usir dia!” ungkap gunung
dalam imajiku
hanya heran yang membungkus
kesadaranku
mengapa? kulihat orang itu
baik-baik saja
gunung tua muntah
jijik melihat orang itu
aku heran mengapa bumi bergetar
orang itu masih saja tenang
dalam imajiku, sang gunung baru
saja mengutuknya
ah, aku baru sadar
pemuda itu mengejek semesta
ia merendah hati dalam
kesombongan di atas gunung tinggi
Ciampea, 2015