Rabu, 25 November 2015

Rendah




orang itu kulihat berlari keluar kampungnya sambil menyanyikan kidung kerendahan hati
jaket gunung hijau bahan parasut memeluk tubuh kurusnya
tak ada ransel yang biasa bergoyang-goyang menepuk punggung
hanya kresek yang tergantung, nampak risih ia akan suara kidung
pokok-pokok beringin menatap orang itu
akar-akar gantung melambai, mengusik angin
mungkin ia minta angin menegur orang yang berlari
diam lebih baik, katanya dalam imajiku
namun orang itu masih berlari
kidung masih dan akan selalu tersambung
dalam pikirku, ia terlihat anggun ketika melompat seraya melambungkan suara dua oktafnya pada bioma di sekitarnya
namun entah yang ada pada benak bioma
aku tak pernah tahu jalan pikiran alam

orang itu mengarah gunung yang tampak tua
tubuhnya berkeriput dan nampak tak segagah sebelas atau dua belas abad sebelumnya
gunung nampak tak terima kedatangan orang itu
“usir dia!” ungkap gunung dalam imajiku
hanya heran yang membungkus kesadaranku
mengapa? kulihat orang itu baik-baik saja

gunung tua muntah
jijik melihat orang itu
aku heran mengapa bumi bergetar
orang itu masih saja tenang
dalam imajiku, sang gunung baru saja mengutuknya

ah, aku baru sadar
pemuda itu mengejek semesta
ia merendah hati dalam kesombongan di atas gunung tinggi
Ciampea, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar