Sekarang kutatap nama itu dan
kurasa sama saja melihatnya di tempatMu yang lain.
Kutatap nama itu dengan harap
cemas.
Kurasa aku haus.
Aku tercekat.
Aku sukar bicara.
Air mataku terjun begitu saja.
Tanpa perizinan dariku.
Nakal.
Pantat bening air mataku lumasi
pipiku.
Pori-poriku.
Mereka terjun sesukanya.
Siapa yang harus kudekati?
Siapa yang bisa menjadi bejana
air mata nakal ini?
Siapa yang bisa memukul pantat
air mataku saat berbuat seenaknya—terjun sesukanya?
Meski kurelakan air mataku terjun
sesukanya,
rasanya sama saja.
Aku selalu bingung;
apakah kebenaran diburamkan, atau
tak ada yang namanya kebenaran?
Ciampea, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar